Ada Pertanyaan?
+62 813-1030-3944

17 Agustus – Jangan Sekata-Kata

  • usman efendi
  • No Comments

 

Hari ini 17 Agustus,

Bagi saya tanggal 17 Agustus 9 tahun yang lalu adalah hari yang sangat luar biasa, menegangkan, was-was, khawatir, gemeteran, keringetan, sekaligus mengubah status saya hingga pukul 11. 55 siang, Selasa 17 Agustus 2010, Menjadi seorang Ayah.

Yah ..betul hari itu adalah hari kelahiran putra pertama kami “Khazindar Ghaisan Utsmani” disaat kebanyakan pasangan suami istri mendambakan kelahiran sang jabang bayi tepat pada saat hari yang dirayakan oleh seluruh bangsa Indonesia, bahkan ada pasutri yang sengaja merencanakan kelahirannya di tanggal tersebut dengan cara proses kelahiran cesar.

Kelahiran anak kami pada tanggal 17 Agutus 2010 adalah bukanlah hal yang direncanakan. Sebagai pasangan muda baru menikah kami cukup bersyukur pada saat itu, tidak harus menunggu lama usia pernikahan kami baru dua bulan istri saya sudah mengandung, seperti pasutri biasanya kami memeriksakan kandungan istri setiap bulannya ke rumah sakit dan ditangani oleh seorang Dr. Kandungan yang expert yang setiap harinya pasien harus ngantri demi mendapat pelayanan dokter ini.

Pada saat ini teknologi kedokteran memang sudah memudahkan kita untuk mengetahui status jabang bayi sejak usia dini kandungan, apakah jenis kelamin atau kisaran bulan kelahiran tetapi memang tidak 100% akurat karena semuanya atas kehendak yang maha kuasa Alloh swt. Ketika pertama kali kami memeriksakan kandungan istri saya, kami langsung bertanya kepada sang dokter tentang perkiraan bulan kelahiran anak kami, dan dokter mengatakan perkiraan sekitar akhir Agustus tanggal dua puluhan.

Minggu sore ba’da maghrib 15 Agustus 2010, tiba-tiba istri saya merasakan kesakitan luar biasa, karena panik saya langsung membawa istri kerumah sakit.

Hasi pemerikasaan dirumah sakit suster yang mememberitahukan kalau tidak nanti malam atau besok pagi mungkin sudah lahir artinya Senin pagi tanggal 16 Agustus 2010, sampai pagi kesakitan istri semakin menjadi, tetapi pembukaan rahim istri saya tidak juga bertambah akhirnya dokter menyarankan untuk dipindah ke ruang perawatan biasa dan disarankan untuk banyak gerak supaya jabang bayi ikut gerak.

Pada saat itu saya hanya bisa berdoa dan membaca Alquran disamping istri tanpa bisa berbuat apapun apalagi memindahkan rasa sakitnya seperti yang saya janjikan pada saat bergombal ria untuk mendapatkan cinta istri saya

“Jika engkau sakit maka aku akan merasa lebih sakit”…

ternyata bohong,…

Selasa pagi 17 Agustus 2010, pukul 11.55 setelah saya mekakukan sholat sunnah Dhuha akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin, anak kami lahir secara normal, saya duduk disamping istri sambil mencucurkan air mata bahagia

“Selamat datang jagoanku di dunia yang indah ini “

 

Ada hal yang saya lupakan ketika dokter mengatakan bahwa anak kami akan lahir pada bulan Agustus, saat itu menjelang tidur saya berucap kepada istri

“Bagaimana kalau anak kita nanti lahir pada tanggal 17 Agustus, rame kali ya banyak yg merayakan..hehehe”.

sambil terawa kecil, ..istri saya hanya menjawab yang penting semuanya lancar dan selamat.

 

“Kullu kalam addu’a.” (Setiap perkataan adalah do’a).

 

Hal ini yang membuat saya sadar bahwa ternyata setiap apa yang kita ucapkan adalah doa, dan yang membuat istri saya tersika kesakitan sampai dua hari dua malam rumah sakit menghadapi proses kelahiran adalah ucapan saya.

 

“Jadi jangan sekata-kata..ucapkan kata yg baik karena setiap perkataan adalah Doa”

Metland Tambun, Sabtu, 17 Agustus 2019.
“SELAMAT ULANG TAHUN ANAKU semoga menjadi anak soleh sukses dunia dan akhirat“

Author: usman efendi

Leave a Reply

shares